Senin, 26 April 2010

SOSPED

Sosiologi Desa

Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Sosiologi Desa .

1. Merupakan suatu cabang sosiologi yang mempelajari gejala sosial di pedesaan
2. Sejarah : - 1920 di Amerika Serikat ada mata kuliah tentang problema kehidupan pedesaan - 1970 Smith dan Zopt melahirkan Sosiologi Pedesaan dan melahirkan definisi Ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakat di dalam dan antara kelompok kelompok di lingkungan pedesaan Rogers Ilmu yang mempelajari fenomena masyarakat dalam setting pedesaan

3. Unsur unsur Desa Daerah Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis Penduduk Jumlah penduduk, pertambahan penduduk, pertambahan penduduk, persebaran penduduk dan mata pencaharian penduduk Tata Kehidupan Pola tata pergaulan dan ikatan ikatan pergaulan warga desa termasuk seluk beluk kehidupan masyarakat desa

4. Ciri ciri kehidupan masyarakat Desa a.

1. Masyarakatnya erat sekali hubungannya dengan alam
2. Penduduk di desa merupakan unit sosial dan unit kerja . Masyarakat desa mewujudkan paguyuban/gemainschaft

5. Fungsi dan Potensi Desa a.

1. Fungsi Desa - Dalam hubungan dengan kota desa merupakan Heterland atau daerah dukung - Desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja - Merupakan desa agraris, desa industri Sutopo Yuwono Salah satu peran pokok desa terletak di bidang ekonomi Daerah pedesaan merupakan produksi pangan dan produksi eksport
2. Potensi desa – Potensi Fisik dan non fisik

1. Potensi Fisik Tanah, air, Iklim, manusia, Hutan.
2. Potensi non fisik Gotong royong, kekeluargaan, lembaga sosial, Potensi desa tidak sama karena lingkungan geografis dan keadaan penduduknya berbeda dan corak kehidupannya juga berbeda.

Maju mundurnya desa akan tergantung pada beberapa faktor yaitu : potensi desa, interaksi desa dengan kota atau antara desa dengan desa dan lokasi desa terhadap daerah disekitarnya yang lebih maju

6. Type type desa Pra desa, Desa Swadaya (desa tradisional), Desa Swakarya (desa transisi), Desa Swasembada (desa maju)


Sosiologi Pedesaan

A. Sosiologi Desa

1. Pengertian Desa
Sutardjo Kartohadikusumo
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempattinggal suatu masyarakat yang berkuasamengadakan pemerintahan sendiriC.S. Kansil
Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

2. Sosiologi Desa
a. Merupakan suatu cabang sosiologi yangmempelajari gejala sosial di pedesaan
b. Sejarah :
- 1920 di Amerika Serikat ada mata kuliah tentangproblema kehidupan pedesaan
- 1970 Smith dan Zopt melahirkan Sosiologi Pedesaandan melahirkan definisi
Ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakatdi dalam dan antara kelompok kelompokdi lingkungan pedesaan
Rogers
Ilmu yang mempelajari fenomena masyarakatdalam setting pedesaan

3. Unsur unsur Desa
DaerahTanah yang produktif, lokasi, luas dan batasyang merupakan lingkungan geografis
Penduduk
Jumlah penduduk, pertambahan penduduk,pertambahan penduduk, persebaran pendudukdan mata pencaharian penduduk
Tata Kehidupan
Pola tata pergaulan dan ikatan ikatan pergaulanwarga desa termasuk seluk beluk kehidupanmasyarakat desa

4. Ciri ciri kehidupan masyarakat Desa
a. Masyarakatnya erat sekalihubungannya dengan alam
b. Penduduk di desa merupakan unit sosialdan unit kerja
c. Masyarakat desa mewujudkanpaguyuban/gemainschaft

5. Fungsi dan Potensi Desa
a. Fungsi Desa
- Dalam hubungan dengan kota desa merupakanHeterland atau daerah dukung
- Desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentahdan tenaga kerja
- Merupakan desa agraris, desa industri
Sutopo Yuwono
Salah satu peran pokok desa terletak di bidang ekonomiDaerah pedesaan merupakan produksi pangandan produksi eksport
b. Potensi desa – Potensi Fisik dan non fisik
1). Potensi Fisik
Tanah, air, Iklim, manusia, Hutan
2). Potensi non fisik
Gotong royong, kekeluargaan, lembaga sosial,
Potensi desa tidak sama karena lingkungan geografisdan keadaan penduduknya berbeda dancorak kehidupannya juga berbeda
Maju mundurnya desa akan tergantung pada beberapa faktoryaitu : potensi desa, interaksi desa dengan kota
atau antara desa dengan desa dan lokasi desa terhadap daerah disekitarnya yang lebih maju

6. Type type desa
Pra desa, Desa Swadaya (desa tradisional),
Desa Swakarya (desa transisi),
Desa Swasembada (desa maju)
blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/wp-content/sosdeskot-tam-2.ppt
Topik kuliah tentang Pengertian Sosiologi Pertanian ini membahas tentangpengertian sosiologi secara umum, pengertian dan keterkaitan antara sosiologi pedesaandan sosiologi pertanian, ruang lingkup sosiologi pertanian dan kegunaan mempelajari
sosiologi pertanian.Topik kuliah ini secara keseluruhan dapat diselesaikan dalam waktu 2 (dua) kalitatap muka dengan total pertemuan sebanyak 3 jam. Setelah mengikuti kuliah inidiharapkan mahasiswa dapat menjelaskan pengertian sosiologi, sosiologi pertanian dansosiologi pertanian; ruang lingkup sosiologi pertanian dan kegunaan sosiologi pertanian.
B. PENYAJIAN
Pengertian SosiologiPara sosiolog dan ahli terkait dengan sosiologi sampai saat ini masih terusmelakukan penyelidikan tentang sifat dan hakikat pengertian sosiologi. Nampaknyabelum ada suatu kesepakatan bersama yang formal tentang pengertian sosiologi,sungguhpun demikian ada beberapa pengertian dasar tentang sosiologi yang dapatdigunakan sebagai patokan sementara.Berdasarkan akar katanya, Sosiologi berasal dari dua kata Yunani yaitu “socius”yang berarti “kawan atau teman” dan “logos” yang berarti “ilmu atau pengetahuan”.Teman atau kawan dapat dimengerti secara luas sebagai “keberadaan orang-orang laindalam suatu hubungan”. Dengan demikian berdasarkan asal katanya maka sosiologiberarti “ilmu tentang berkawan” atau “ilmu tentang bagaimana manusia berkawan”.Beberapa pengertian tentang sosiologi yang telah dikemukakan beberapa ahliterkemuka yang mungkin bermanfaat antara lain sebagai berikut:
• Giddens (2004:2) mendefinisikan bahwa “sociology is the study of human social life,
groups and socities” (sosiologi merupakan studi/ilmu yang mempelajari tentangkehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat).
• Pitrin Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari (1)
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, (2) hubungandan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non-sosial dan (3) ciri-ciri
umum semua gejala sosial (Soekanto, 2003:19)
• Roucek dan Waren menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajarihubungan antar manusia dan kelompok-kelompok (Soekanto, 2003:19)
• Ouburn dan Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiahterhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial (Soekanto, 2003:20)
• Doorn dan Lammers menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentangstruktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yangbersifat stabil (Soekanto,2003:20)
• Soemarjan dan Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat yangmempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahansosial (Soekanto, 2003:20)
• Green (1960) dalam Raharjo (1999) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yangmepelajari kehidupan manusia dalam masyarakat, dalam pelbagai aspeknya.Pengertian umum menyatakan bahwa sosiologi adalah “ilmu tentang masyarakat”.
Menurut Priyotamtomo (2001), sosiologi mepelajari perilaku masyarakat dan perilakusosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnnya. Kelompok tersebutmencakup: keluarga, suku, komunitas, pemerintah, organisasi soaial, kelompok ekonomi,
kelompok politik, dan lain sebagainya. Sosiologi mempelajari perilaku dan interaksikelompok, menelusuri asal-susul pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatankelompok terhadap para anggotanya.
• Pengertian Sosiologi Pedesaan dan Sosiologi Pertanian
Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk didalamnya perubahan sosial dalam perkembangannya melahirkanberbagai teori sosiologi dan berbagai cabang sosiologi. Obyek kajian yang berbedaselanjutnya menjadi cabang baru seperti sosiologi industri, sosiologi politik, sosiologiagama dan cabang sosiologi lainnya. Perkembangan ini juga termasuk sosiologi pedesaandan sosiologi pertanian sebagai cabang sosiologi yang khusus mengkaji masalah tentangmasyarakat pedesaan dan dinamikanya.Priyotamtomo (2001) mendeskripsikan bahwa sosiologi pedesaan merupakansuatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan atar kelompok yang ada dilingkungan pedesaan. Pengertian “pedesaan” mencakup wilayah yang disebut “rural”dibedakan dengan “urban”. Secara lengkap pedesaan diartikan sebagai kawasan tempattinggal dan kerja yang secara jelas dapat dipisahkan dari kawasan yang lain yang disebut“kota”.
Masyarakat pedesaan sering disebut sebagai “rural community” sedangmasyarakat perkotaan disebut sebagai “urban community”. Pembedaan tersebut didasarioleh perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Soekanto dalamYulianti dan Purnomo (2003:12-13) menyatakan bahwa perbedaan masyarakat pedesaandan perkotaan dapat dilihat antara lain dari kehidupan kegamaan, individualime,pembagian kerja, macam pekerjaan, jalan pikiran, jalan kehidupan, serta perubahan-perubahan sosial lainnya.Sosiologi pedesaan adalah sosiologi yang tentang struktur dan proses-prosessosial yang terjadi di pedesaan. Bidang kajian ini menekankan pada masyarakat pedesaandan segala dinamikanya yang antara lain mencakup struktur sosial, proses sosial, matapencaharian, pola perilaku, serta berbagai transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi..Menurut Planck (1993:3) Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology) seringdisamakan dengan Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology). Tetapi ini hanya berlaku jikapenduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan pendudukdi desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkandari sosiologi pedesaan.Dengan mempertimbangkan kasus-kasus di pedesaan Indonesia yang umumnyasektor pertanian masih relatif dominan baik sebagai sektor primer maupun sekunder,maka nampaknya dalam praktek agak sulit untuk membedakan secara tegas pokokbahasan dan agenda kajian tentang sosiologi pedesaan dan pertanian. Tumpang tindih dansaling terkait antara kedua pendekatan bidang sosiologi tersebut akan sangat mungkinterjadi di pedesaan Indonesia.
Tidak hanya di pedesaan Indonesia, sebagian besar masyarakat pedesaan dinegara-negara berkembang masih memiliki ketergantungan pada sektor pertanian, bahkanmenurut Raharjo (1999:12) pertanian memang masih merupakan karakteristik pokok dariumumnya desa-desa di dunia. Dilihat dari eksistensinya, desa merupakan fenomena yangmuncul dengan mulai dikenalnya cocok tanam di dunia ini. Dengan mengingatpentingnya faktor pertanian bagi keberadaan desa, maka dapat dipahami bahwakebanyakan batasan sosiologi pedesaan masih selalu berkisar pada aspek pertanian.Dalam pembahasan selanjutnya, bahan ajar ini menggunakan dua disiplin ilmu itu(Sosiologi Pertanian dan Sosiologi Pedesaan) sebagai pendekatan. Pertimbanganutamanya adalah mengingat kemajemukan masyarakat pedesaan Indonesia. Dilihat daritingkat perkembangannya, masih terdapat sejumlah masyarakat desa kita yang masihterbelakang, sehingga masih tepat untuk dianalisis lewat kerangka Sosiologi Pedesaan. Dilain pihak telah terdapat sejumlah desa yang telah maju sehingga lebih tepat untukdijelaskan lewat kerangka Sosiologi Pertanian.Ruang Lingkup Sosiologi PertanianObyek sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-menerus atau sementara tinggal di sana, sedangkan obyek sosiologi pertanian adalahkeseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggalnya.Sosiologi pedesaan lebih menggunakan pendekatan lokasi dalam hal ini “pemukiman”.Sosiologi pertanian menurut Planck (1993:4) adalah sosiologi ekonomi sepertihalnya sosiologi industri, yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomipertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani danpermasalahan hidup petani. Tema utama sosiologi pertanian adalah undang-undangpertanian, organisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentukorganisasi pertanian, dan masalah sosial pertanian. Sebuah aspek yang sangat pentingadalah posisi sosial petani dalam masyarakat.Situasi kehidupan manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan terutamaoleh hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), oleh hubungan pekerjaan mereka satudengan lainnya (tata kerja), dan oleh sistim ekonomi dan masyarakat yang ada diatasmereka (tata kekuasaan). Keseluruhan tata sosial ini disebut sebagai hukum agraria yangdalam arti sempit dimaknai sebagai hukum pertanahan (land tenure).Kegunaan Mempelajari Sosiologi PertanianDengan mempelajari sosiologi pertanian kita bisa mengumpulkan secarasistimatis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan mengenai masyarakatpedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungan-hubungannya.Sosiologi pertanian membantu dalam mengambil lukisan seteliti-telitinya tentangtingkah laku, sikap, perasaan, motif dan kegiatan-kegiatan petani yang umumnya hidupdalam lingkungan pedesaan. Hasil telaah tersebut dapat digunakan untuk meperbaikikehidupan masyarakat pedesaan dan pertanian pada khususnya.Planck (1993:9) menyatakan bahwa penduduk desa mencari penjelasan mengenaiproses sosial di pedesaan dan menuntut pembaharuan untuk masa depan. Petanimengharapkan sosiologi pertanian dalam usahanya menemukan suatu kesadaran baru.Praktek dari politik pertanian menuntut dari sosiologi pertanian antara lain tempatkegiatan terbaik untuk langkah-langkah yang telah direncanakan dan menunjukandampak sosial yang akan timbul dari yang direncanakan. Sosiologi pertanian harusmemberikan data mengenai struktur pedesaan, mengenai kecenderungan perkembangansosial, mengenai penyakit dalam masyarakat dan keadaan darurat, mengenai harapan dantuntutan sosial mereka dalam perencanaan tata ruang.Sumbangan sosiologi pertanian dalam politik kemasyarakatan memang masihterbatas. Namun mereka dapat membantu pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat
dengan cara:
• Menjelaskan definisi, obyek dan indikator sosial
• Menjelaskan hubungan sesama manusia dan perilakunya
• Meneliti aturan, fungsi kelompok/organisasi sosial
• Menemukan tenaga pendorong, mekanisme dan proses perubahan sosial danlain sebagainya.

PENGERTIAN-PENGERTIAN

Batasan. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam hubungan kelompoknya. Yang mencakup hubungan di dalam dan antara kelompok-kelompok manusia. Unsur-unsur yang terdapat dalam batasan ini adalah manusia, hubungan dan kelompok. Perkataan socius dalam bahasa latin yang berarti teman, dan logos adalah ilmu atau pengetahuan, teman disini mempunyai arti yang luas dari pada yang dimaksudkan sehari-hari, yaitu pihak lain dalam suatu hubunga. Jadi bisa diartikan kawan maupun lawan.
Sosiologi pedesaan adalah sosiologi yang melukiskan dan mencakup hubungan manusia didalamnya dan antara kelompok – kelompok yang ada di lingkungan pedesaan (rural dalam bahasa inggris). Perkataan pedesaan dalam pemakaian sehari- hari mudah saja untuk dimengerti. Tetapi jika harus diberikan batasan yang tepat adalah sukar juga. Jika kita ikuti
Maksud untuk mempelajari sosiologi pedesaan adalah untuk mengumpulkan keterangan mengenai masyarakat pedesaan dan hubungan-hubungannya.yang melukiskan setelitinya tingkah laku, sikap, perasaan, motif, dan kegiatan manusia yang hidup dalam lingkungan pedesaan itu. Hasil dari penelitian sosiologi pedesaan tadi dapat di pergunakan untuk usaha-usaha perbaikan penghidupan dan kehidupan manusia pedesaan. Misalnya usaha penyuluhan pertanian.
Bacaan perkataan desa hanya dipakai di daerah jawa, Madura, bali, perkataan dusun dipakai di daerah sumatera selatan : di Maluku orang mengenal nama dusun dati, di batak perkataan dusun dipakai buat nama pendukuan. Di aceh orang memakai nama gambong dan meunasah buat daerah-hukum yang paling bawah. Di batak daerah-hukum setingkat dengan desa diberi nama kuta, uta atau huta.daerah –hukum di minangkabau dinamakan nagari, daerah-gabungan ada yang dinamakan luha, di daerah sumatera timur daerah-hukum yang paling bawah ialah suku. Disumatera selatan(kerinci, Palembang, Bengkulu) daerah-hukum di lampung nama dusun atau tiuh, di minahasa wanua, didaerah makasar ialah daerah-gaukang, dibugis adalah daerah-matowa.
Penularan masyarakat ( social contagion)
hal ini adalah penyebaran gagasan, sikap atau pola tingkah laku kepada sejumlah banyak orang, karena interaksi social dengan sedikit pencerminan akal (Ratio), bentuk penularan masyarakat ini bemacam-macam
Mode, yaitu suatu yang aktif relatif singkat waktunya dan mengenai cara menghias diri, cara berbicara dan lain-lain pola tingkah laku. Ada sedikit tekanan untuk berlaku seragam itu, bukan kerena agama atau moral, tetapi karena banyak orang telah berbuat demikian sehingga lain-lainnya juga tidak mau ketinggalan. Contoh jelas adalah mode pada cara pakaian golongan wanita.
Kegemaran, ini adalah pola tingkah laku yang pendek sekali umurnya dan daya tariknya terletak pada sifat kebaru-baruannya itu. Umpamanya cara berpakaian istimewa untuk sementara waktu, riasan rambut, model sepatu yang istimewa, dst
Kegila-gilaan, juga umumnya pendek sekali dan daya tariknya baru dan serem. Contohnya seperti saling bermusuhan antara kelompok- kelompok pemuda, ngebut dengan sepeda motor, pemborongan barang-barang karena takut harganya naik,
Epidemic sosiologi, hal ini mengenai penularan sosial dalam lapisan masyarakat yang luas. Biasanya dengan penuh emosi dan adanya kepentingan umum, kadang-kadang bersifat penyakit psychis. Contohnya seperti upacara magis dalam masa-masa genting. Sikap bermusuhan terhadap golongan tertentu, sikap takut dan gelisah terhadap keadaan ekonomi yang memburuk
Gerakan masa,yang terdiri dari kerusuhan, kerusuhan sebagai aksi protes yang telah dikoordinasikan, tetapi secara spontan oleh berbagai lapisan masyarakat dimana-mana, karena merasa tidak puas dengan kondisi yang ada dan kegelisahan sosial. Gerakan masa berbeda dengan gerakan sosial, karane yang pertama tidak ada rencana dan pimpinan yang tersusun rapi.

STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT PEDESAAN
Posted by Kamaluddin in Dinamika Masyarakat
.fullpost{display:inline;}Desa dan Masyarakat Desa
Pengertian tentang desa cukup beragam, beberapa tokoh sosiologi pedesaan dan antropologi memberikan pandangan tentang desa. Menurut Koentjaraningrat (1984), bahwa desa dimaknai sebagai suatu komunitas kecil yang menetap tetap di suatu tempat. Pemaknaan tentang desa menurut pandangan ini menekankan pada cakupan, ukuran atau luasan dari sebuah komunitas, yaitu cakupan dan ukuran atau luasan yang kecil. Pengertian lain tentang desa dikemukakan oleh Hayami dan Kikuchi (1987) bahwa desa sebagai unit dasar kehidupan kelompok terkecil di Asia, dalam konteks ini “desa” dimaknai sebagai suatu “desa alamiah” atau dukuh tempat orang hidup dalam ikatan keluarga dalam suatu kelompok perumahan dengan saling ketergantungan yang besar di bidang sosial dan ekonomi. Pemaknaan terhadap desa dalam konteks ini ditekankan pada aspek ketergantungan sosial dan ekonomi di masyarakat yang direpresentasikan oleh konsep-konsep penting pada masyarakat desa, yaitu cakupan yang bersifat kecil[3]dan ketergantungan dalam bidang sosial dan ekonomi (ikatan-ikatan komunal).
Desa mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda satu sama lain, tergantung pada konteks ekologinya. Pengkajian masyarakat pedesaan memberikan ciri atau karakteristik yang cenderung sama tentang desa. Pada aspek politik, masyarakat desa cenderung berorientasi “ketokohan”, artinya peran-peran politik desa pada umumnya ditanggungjawabkan atau dipercayakan pada orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat. Secara ekonomi, mata pencaharian masyarakat desa berorientasi pada pertanian artinya sebagian besar masyarakat desa adalah petani. Sedangkan dalam konteks religi-kultural masyarakat desa memiliki ciri nilai komunal yang masih kuat dengan adanya guyub rukun, gotong royong dan nilai agama atau religi yang masih kuat dengan adanya ajengan atau Kyai sebagai pemuka agama.
Secara historis, desa memerankan fungsi yang penting dalam politik, ekonomi dan sosial-budaya di Indonesia. Di sisi lain, pedesaan merupakan daerah yang dominan jumlahnya di Indonesia, dimana sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di daerah pedesaan. Hal ini memberikan implikasi pada banyaknya program pembangunan yang diorientasikan pada masyarakat pedesaan. Dengan demikian, maka kajian mengenai masyarakat desa menjadi suatu hal yang sangat penting dilakukan sebagai kerangka dasar pembangunan nasional. Dua hal penting yang akan menjadi fokus kajian tentang pedesaan dalam kegiatan turun lapang ini yaitu struktur sosial dan dinamika masyarakat pedesaan. Struktur sosial yang dimaksudkan adalah hubungan antar status/peranan yang relatif mantap. Sementara itu, dinamika masyarakat dimaknai sebagai proses gerak masyarakat dalam keseharian, dalam konteks ruang dan waktu.
Sastramihardja (1999) menyatakan bahwa desa merupakan suatu sistem sosial yang melakukan fungsi internal yaitu mengarah pada pengintegrasian komponen-komponennya sehingga keseluruhannya merupakan satu sistem yang bulat dan mantap. Disamping itu, fungsi eksternal dari sistem sosial antara lain proses-proses sosial dan tindakan-tindakan sistem tersebut akan menyesuaikan diri atau menanggulangi suatu situasi yang dihadapinya. Sistem sosial tersebut mempunyai elemen-elemen yaitu tujuan, kepercayaan, perasaan, norma, status peranan, kekuasan, derajat atau lapisan sosial, fasilitas dan wilayah.
Masyarakat selalu dikaitkan dengan gambaran sekelompok manusia yang berada atau bertempat tinggal pada suatu kurun waktu tertentu. Pengertian ini menggambarkan adanya anggapan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari faktor lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun sosial. Berdasarkan pandangan dari segi sosiologi, hal ini memperlihatkan adanya interaksi sosial antara manusia secara kelompok maupun pribadi. Masyarakat mengutamakan hubungan pribadi antara warganya, dalam arti bahwa masyarakat desa cenderung saling mengenal bahkan seringkali merupakan ikatan kekerabatan yang berasal dari suatu keluarga ”pembuka desa” tertentu yang merintis terbentuknya suatu masyarakat guyub. Pada masyarakat desa terdapat ikatan solidaritas yang bersifat mekanistik dalam arti bahwa hubungan antar warga seakan telah ada aturan semacam tata krama atau tata tertib yang tidak boleh dilanggar jika tidak ingin mendapat sanksi. Adanya tata tertib tersebut sesungguhnya ingin menjaga suatu comformity di kalangan masyarakat desa itu sendiri.
Menurut Geertz (1963) masyarakat desa di Indonesia identik dengan masyarakat agraris dengan mata pencaharian sektor pertanian, baik petani padi sawah (Jawa) maupun ladang berpindah (Luar Jawa). Selain itu, sejumlah karakteristik masyarakat desa yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui yaitu: sederhana, mudah curigai, menjunjung tinggi kekeluargaan, lugas, tertutup dalam hal keuangan, perasaan minder terhadap orang kota, menghargai orang lain, jika diberi janji akan selalu diingat, suka gotong royong, demokratis, religius. Kedudukan seorang dilihat dari berapa luasan tanah yang dimiliki.

Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial merupakan pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status (Susanto, 1993). Definisi yang lebih spesifik mengenai stratifikasi sosial antara lain dikemukakan oleh Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990) bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya kelas tinggi dan kelas rendah. Sedangkan dasar dan inti lapisan masyarakat itu adalah tidak adanya keseimbangan atau ketidaksamaan dalam pembagian hak, kewajiban, tanggung jawab, nilai-nilai sosial, dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar